Belakangan keluar usulan ibadah haji menggunakan metaverse. Ini menarik sekali sebenarnya, bukan karena sisi ibadahnya, namun kajian teknologi yg mewakili peribadatan. Bisakah bernilai ibadah saat diwakili oleh metaverse ?.

Metaverse itu perpaduan teknologi augmented reality dan virtual reality, ada objek yang diwakili oleh metaverse yang sangat nyata. Sementara kita sebagai subjek bekerja dengan objek tersebut sangat nyata, termasuk suasana batinnya. Teknologi ini bukan baru2 sekali meski trennya sangat booming di saat sekarang.
Kita pernah melihat orang memakai kacamata kemudian melihat dengan nyata, semisal film yang kemudian seperti kita ada di dalamnya, terlibat di sana. Atau semisal kita pakai kacamata khusus itu lalu ikut roller coaster, tangan kita yg seolah memegang objek, menjerit2 saat roller coaster berputar bahkan bisa berkeringat dan terkencing2.
Pada saat GESS dan WorldDidac di Bangkok, sy pernah mencoba VR tersebut, sungguh nyata. Fisik sy bisa mendongkrak truk, mengganti baut ban serta mengganti ban. Semua objek terasa nyata padahal tidak ada.
Belakangan metaverse coba dimainkan dalam ibadah haji, alasannya tentu saja terwakili akibat pandemi. Hijr Aswad begitu nyata bahkan bisa dicium, tawaf serta sa'i terasa nyata dilakukan. Anda bisa saja ibadah haji di kampung, tawaf nyata di Ka'bah yg palsu. Apakah nilai ibadah tercapai ?
Jika bisa tercapai, mending bikin replika Ka'bah ketimbang pakai kacamata khusus. Syukurnya MUI bergerak cepat, ibadah tetap harus menghadirkan fisik nyata, baik kita sebagai subjek maupun tempat yg juga nyata, tidak boleh terwakili. Bayangkan jika zakat bisa virtual, zakat metaverse 🤣. Bisakah orang miskin hanya menikmati beras dari google image yang di-augmented reality agar bisa menjadi dimensi tiga. Bisakah kita kenyang jika makannya pura2 ngunyah padahal "boong !!!".
Namun untuk pembelajaran di sekolah, sy setuju. Ke depan teknologi metaverse harus jadi tren di sekolah. Siswa bisa berkelana ke tempat2 bersejarah melalui metaverse, bahkan simulasi ibadah haji pun akan membuat kita rindu untuk benar2 nyata hadir di sana.
Cerdaslah memanfaatkan teknologi, bukan untuk mewakili kedekatan kita dengan Rabb dalam bentuk ibadah, namun menyemangati kita agar semangat beribadah.
Intinya, metaverse hanyalah gamifikasi. Game boleh saja untuk pembelajaran tapi tidak boleh untuk ibadah. Masak sama Tuhan main2 ?.
Tabarakallah..